ANTIHISTAMIN (I)

 

Turunan Etilendiamin dan Kolamin

HISTAMIN

      Histamine merupakan mediator utama pada reaksi tipe I fase cepat, memiliki peran sentral dalam respon imunologis dan inflamasi. Aksi histidine dekarboksilase pada histidine akan menghasilkan histamine. Sel-sel yang mempunyai histamine dalam jumlah besar yaitu sel gaster, trombosit, mast, dan basophil. Pada sel mast dan basophil, histamine disimpan pada lisosom dan dilepaskan melalui degranulasi setelah perangsangan cukup. Pengaruhnya cukup cepat selama 1 menit, dan inaktiv histamine oleh histaminase juga cepat (Syarifuddin, 2019).

      Histamin dapat menyebabkan kontraksi otot polos bronkus yang menyebabkan bronkokontriksi, dilatasi venula kecil, dan kontriksi akibat kontraksi otot polos dalam system vascular besar. Lalu histamine akan meninggikan permeabilitas kapiler dan venuka pasca kapiler. Perubahan vascular ini menyebabkan respon wheal-flare (Triple respons dari Lewis) dan bila terjadi secara sistemik akan menimbulkan hipotensi, urtikaria, dan angioedema. Pada traktus GI histamine meningkstkan sekresi mukosa lambung, dan bila histamine dilepaskan sistemik akan menyebabkan diare dan hipermotilitas (Syarifuddin, 2019).

Reseptor Histamin

      Histamin dalam melakukan kerja biologisnya berkombinasi dengan reseptor selular yang terdapat pada permukaan membrane. Terdapat 4 reseptor histamine yaitu :

  •       Pada reseptor H1, histamine meningkatkan permeabilitas kapiler, kontraksi otot polos saluran cerna dan pernapasan, pelepasan mediator inflamasi dan penarikan sel-sel inflamasi. Dari reseptor ini secara klinis juga diperoleh gejala pruritus (Soegijanto, 2016).
  •     Reseptor H2, menyebabkan vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas kapiler, bertanggung jawab kepada urtikaria dan gejala anafilaksis seperti hipotensi, flushing, sakit kepala dan takikardia. Afinitas terhadap reseptor H1 adalah 10 kali lebih kuat daripada H2 yang banyak terdapat pada lambung yang menyebabkan peningkatan sekresi asam, serta pada jantung yang menyebabkan peningkatan kontraksi jantung (Soegijanto, 2016).
  •      Aktivasi reseptor H3 menyebabkan hambatan terhadap saraf eksitasi kolinergik dan nonkolinergik dijalan nafas. Reseptor H3 dikenal sebagai penghambat feed-back dibeberapa system organ, misalnya di SSP (Sistem Saraf Pusat). Reseptor H3 menyebabkan sedasi dengan cara mengantagoniskan kerja H1 (tidak mengalami kantuk), dan di bronkus H3 mengantagoniskan H1 sehingga terjadi bronkodilatasi (Departemen Farmakologi, 2008).
  •        Reseptor H4, ditemukan pada sum-sum tulang dan sel hematopoitik perifer dan belum terlalu jelas peranannya, ada yang menyebutkan sebagai immunomodulatory, tetapi diduga berfungsi sebagai control reseptor H3 begitupun sebaliknya.

ANTIHISTAMIN

      Antihistamin adalah zat-zat yang dapat mengurangi atau menghalangi efek histamin terhadap tubuh dengan jalan memblok reseptor –histamin (penghambatan saingan). Antihistamin merupakan inhibitor kompetitif terhadap histamin. Antihistamin dan histamine berlomba untuk menempati reseptor yang sama. Antihistamin banyak digunakan untuk pengobatan di berbagai kondisi seperti pada reaksi alergi akut (Lisni et al., 2020).

Antagonis H1

Secara farmakologi, antihistamin dikatakan bekerja secara antagonis kompetitif yang reversible pada reseptor H1 sehingga dapat menghambat kerja histamine pada reseptor tersebut, tetapi tidak memblok pelepasan histamine.

Secara kimiawi, antihistamin terdiri dari atas beberapa kelompok persenyawaan kimia dan dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu :

  •    Generasi I : etolamin (difenhidramin, klemastin, karbinoksamin, doksilamin, dan dimenhidrinat); etilendiamin (pirilamin, tripelennamin, antazolin, dan mepiramin); alkilamin (klorfeniramin dan bromfeniramin); piperazin (hidroksizin, siklizin, dan meklizin); dan fenotiazin (prometazin, mekuitazin, dan trimeprazin).
  •    Generasi II : alkilamin (akrivastin); piperazin (setirizin); piperidin (astemizol, levokabastin, loratadin, terfenadin, dan fleksofenadi); dan lain-lainnya yaitu siproheptadin.

Farmakokinetik

Antagonis H1 biasanya diabsorpsi dengan baik disaluran cerna. Setelah pemberian oral, kadar puncak plasma dicapai dalam 2-3 jam dan efeknya berakhir dalam 4-6 jam. Walaupun demikian, ada beberapa obat yang kerja nya lebih lama, missal seperti klemastin, setrizin, dan terfenadin (12-24 jam), sedangkan untuk obat astemizol dalam 24 jam. Untuk obat pada generasi pertama, seperti difenhidramin yang diberikan secara per oral mencapai kadar maksimum dalam darah ±2 jam dengan waktu paruhnya 4 jam. Distribusi untuk obat ini luas, termasuk di SSP dan dalam jumlah kecil dijumpai di daklam urin dengan bentuk metabolit. Eliminasi obat ini cepat pada anak dan dapat menginduksi enzim mikrosonal hepatic. Hal ini juga, tampaknya sama dengan obat generasi 1 lainnya. Sementara itu, obat pada generasi ke-2, seperti astemizol, terfenadin,d an loratadin diabsorpsi secara cepat di saluran cerna dan di metabolisme di hati melalui system microsomal hepatic P450 (Departemen Farmakologi, 2008).

Antagonis H2

   Antagonis H1 tidak dapat menghambat asam lambung. Pada awal tahun 70-an antagonis H2 terbukti dapat mengontrol sekresi asam lambung secara fisiologis. Dua antagonis H2 pertama yang ditemukan adalah burinamid dan simetidin. Simetidin diketahui mempunyai cincin imidazole, dan dengan perkembangan nya cincin ini diganti dengan senyawa furan (ranitidine) atau dengan tiazol (famotidine, nizatidin). Obat-obat antagonis H2 lebih hidrofilik dibandingkan dengan antagonis H1 dan dapat mencapai SSP (Departemen Farmakologi, 2008).

Mekanisme kerja antagonis H2

   Obat ini diduga bekerja dengan cara menghambat interaksi histamine dengan reseptor H2 secara kompetitif dan selektif sehingga tidak memberikan efek pada reseptor H1. Kerja utama obat ini adalah mengurangi sekresi asam lambung yang di sebbakan oleh histamine, gastrin, obat-obat kolinomimetrik (AINS), rangsangan vagal makanan (terutama asam), insulin, dan kopi (Departemen Farmakologi, 2008).

   Simetidin,ranitidine, dan famotidine memiliki pengaruh yang kecil terhadap fungsi otot polos lambung dan tekanan sfingter esophagus. Nizatidin dapat menekan kontraksi asam lambung sehingga memperpendek waktu pengosongan lambung dan hal ini diduga karena menghambat asetilkolinesterase.

Farmakokinetik

Antagonis H2 diabsorpsi secara cepat dan baik setelah pemakaian oral. Konsentrasi puncak plasma dicapai dalam waktu 1-2 jam. Waktu paruh eliminasi ranitidine, simetidin, dan famotidine kurang lebih 2-3 jam sedangkan nizatidin lebih pendek yaitu 1,3 jam. Walaupun obst-obat ini mengalami metabolism hepatic, obat-obat ini diekskresikan dalam jumlah besar di urine dalam bentuk utuh sehingga pada gangguan ginjal perlu dilakukan penyesuaian dosis (Departemen Farmakologi, 2008).


I. Antihistamin Turunan Etilendiamin

Merupakan antagonis H1 dengan keefektifan yang cukup tinggi, meskipun penekan system saraf dan iritasi lambung cukup besar.

Salah satu contoh obatnya yaitu :

Antazoline


Antazoline adalah antihistamin generasi pertama dengan sifat antikolinergik yang digunakan untuk meredakan hidung tersumbat dan obat tetes mata , biasanya dikombinasikan dengan naphazoline , untuk meredakan gejala konjungtivitis alergi . Untuk mengobati konjungtivitis alergi, antazolin dapat dikombinasikan dalam larutan dengan tetryzoline . Obat tersebut adalah antagonis reseptor Histamin H1 : secara selektif mengikat tetapi tidak mengaktifkan reseptor, sehingga menghalangi aksi histamin endogen dan selanjutnya menyebabkan hilangnya gejala negatif sementara yang dibawa oleh histamin.

Khasiat antihistaminiknya tidak begitu kuat seperti yang lain, tetapi kebaikannya terletak pada sifatnya yang tidak merangsang selaput lendir. Maka seringkali digunakan untuk mengobati gejala-gejala alergi pada mata dan hidung (selesma) Antistine-Pirivine, Ciba Geigy

Dosis : oral 2 – 4 kali sehari 50 – 100 mg

 

II. Antihistamin Turunan Kolamin (Eter Amino Alkil)

Merupakan Senyawa yang mempunyai aktivitas antikolinergik yang cukup bermakna karena mempunyai struktur mirip dengan eter aminoalkohol, suatu senyawa pemblok kolinergik.

Salah satu contoh obatnya yaitu :

Dymenhidrinate



Farmakodinamik

Dimenhydrinate secara kompetitif memblokade reseptor H1 sehingga mencegah kerja zat histamin pada otot polos bronkial, kapiler, dan gastrointestinal. Hal ini akan mencegah bronkokonstriksi yang disebabkan oleh induksi histamin. Selain itu, mekanisme ini juga mencegah vasodilatasi, meningkatkan permeabilitas kapiler, dan spasme otot polos gastrointestinal.

Dosis

Bentuk sediaan tablet: Untuk mengobati mual, vertigo, dan mabuk perjalanan adalah 50-100 mg sekitar 3-4 kali sehari. Dosis maksimalnya adalah 400 mg/hari. Sedangkan untuk mencegah mabuk perjalanan, minum dosis pertama kurang lebih 30 menit sebelum bepergian.

Bentuk sediaan injeksi: Untuk mengobati mual, vertigo, dan mabuk perjalanan, dosis yang diberikan adalah 50-100 mg setiap 4 jam sekali.

Interaksi

Dimenhydrinate jika digunakan bersamaan dengan obat depresan sistem saraf pusat lain akan meningkatkan efek sedasi (efek mengantuk). Sedangkan jika digunakan bersamaan dengan obat aminoglikosida atau obat ototoksik (merusak telinga) lain, dapat menutupi gejala awal kerusakan telinga. Jika digunakan bersamaan dengan alkohol dapat meningkatkan efek sedasi.


DAFTAR PUSTAKA

Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. 2008. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Jakarta : EGC.

Lisni, I., A. Anggriani., dan R. Puspitasari. 2020. Kajian Peresepan Obat Antihistamin Pada Pasien Rawat Jalan di Salah Satu Rumah Sakit di Bandung. Jurnal Riset Kefarmasian Indonesia. 2(2) : 52-62.

Soegijanto, S. 2016. Penyakit Tropis dan Infeksi di Indonesia Jilid 3. Surabaya: Airlangga University Press.

Syarifuddin. 2019. Imunologi Dasar : Prinsip Dasar Sistem Kekebalan Tubuh. Jakarta: Cendekia Publisher.



Pertanyaan :

1. Mengapa antihistamin generasi kedua disebut sebagai antihistamin non-sedasi?

2. Bagaimanakah mekanisme antihistamin dalam memblock reseptor histamin?

3. Bagaimanakah efek obat antihistamin pada ibu menyusui? apakah akan berefek pada ASI yang dihasilkan?

Komentar

  1. Balasan
    1. Wahh terimakasih, semoga banyak membantuuu hehe

      Hapus
  2. Balasan
    1. Terimakasih kembali, semoga dpt bermanfaat untuk kita semuaaa :'v

      Hapus
  3. Pembahasannya sangat menarik. Terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah terimakasih kembali emel. Semangattt jugaa buat blog nyaaa :D

      Hapus
  4. Izin menjawab pertanyaan nomor 2🙏Antihistamin bekerja dengan cara memblokir zat histamin yang diproduksi tubuh. Sebenarnya zat histamin berfungsi melawan virus atau bakteri yang masuk ke tubuh. Ketika histamin melakukan perlawanan, tubuh akan mengalami peradangan. Namun pada orang yang mengalami alergi, kinerja histamin menjadi kacau karena zat kimia ini tidak lagi bisa membedakan objek yang berbahaya dan objek yang tidak berbahaya bagi tubuh, misalnya debu, bulu binatang, atau makanan. Alhasil, tubuh tetap mengalami peradangan atau reaksi alergi ketika objek tidak berbahaya itu masuk ke tubuh.Sekian dari saya semoga membantu,terima kasih😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih viooo, sangattt membantuu sekaliii jawabannyaaa. Semangattt terusssss :D

      Hapus
  5. Uwaaahhh sangat² membantu sekali dlm membuat Tugas kuliah yg menumpuk ini

    Terimakasih banyak kakak:))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahhh sama2 dong kakak:)) semoga dpt membantu untuk khalayak ramai hehe :'v

      Hapus
  6. Perkenalkan saya maya arsita (f1f118008), akan menjawab pertnyaan no.3
    pemakaian obat untuk ibu hamil dan menyusui harus sesuai dengan resep dokter. Berdasarkan temuan yang terbit pada Journal of Pharmacology & Pharmacotherapeutics, ibu hamil kerap mengalami gatal-gatal karena alergi. Salah satu obat yang diresepkan dokter adalah antihistamin cetrizine. Cetirizine adalah obat alergi antihistamin. Histamin adalah zat kimia yang dilepaskan tubuh saat mengalami alergi sebagai upaya untuk melawan alergen. Cetirizine sebagai antihistamin bekerja dengan cara memblokir produksi histamin yang menyebabkan gejala alergi, seperti mata berair, hidung mampet, pilek, bersin-bersin, dan gatal-gatal.
    Ternyata, manfaat cetirizine tidak cuma untuk meredakan alergi. Penelitian yang terbit pada jurnal Annals of Pharmacotherapy menunjukkan, cetirizine mampu mengatasi muntah-muntah akibat morning sickness pada ibu hamil dan meredakan nyeri terus-menerus pada payudara saat ibu sedang menyusui.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih atas jawabannya. Ingin menanggapi sedikit, berdasarkan jawaban saudara jika obat antihistamin ini bisa diberikan pada ibu menyusui. Tetapi pada artikel yang saya baca obat antihistamin ini bisa mempengaruhi ASI sehingga nanti nya pun akan berefek pada bayi nya

      Hapus
  7. Alhamdulillah mudah di mengerti materinya
    Di tunggu postingan selanjutnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah terimakasih banyakk kakak cindyyy ehee..

      Hapus
  8. Semangat terus nung, semoga terus menulis.

    BalasHapus
  9. Terimakasih atas ilmunya kkak, semangattttt terusss

    BalasHapus
    Balasan
    1. Uwaww alhamdulillah terimakasih kembali kakak:))

      Hapus
  10. Waaah artikel nya sangat bermanfaat ,terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih banyaakkkk hehe^^, jika ada yg blm dipahami boleh ditanyakann :D

      Hapus
  11. alhamdulillah terimakasih banyakk kakakk^_^. stay healthy yaaaaa hehe

    BalasHapus
  12. Waw artikel yang sangat bermanfaat dan berguna.
    Semangat terus ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah terimakasihh banyakkk kakakk^^ semangatt jugaa buat kamuu hehe:D

      Hapus
  13. Terima kasih atas ilmunya semoga berkah untuk kita semua, aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin yarabbal'alamin, terimakasih banyakk semoga bermanfaat untuk semuaa ya chingu hehe ^^

      Hapus
  14. Semoga ilmu yang disampaikan dapat bermanfaat bagi yang membaca, artikelnya sangat mudah dipahami, semangattt..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin yaarabbal 'alamin semoga dapat bermanfaat hehe. Semangattt jugaa buat kamuu, FIGHTINGG!!^^

      Hapus
  15. Keren dan sangat bermanfaat dengan adanya informasi di atas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih banyakkk ^^ seering2 kunjungi artikel selanjutnya yaaaa :D

      Hapus
  16. Terimakasih banyak atas ilmunya, artikelnya sangat bermanfaat 🙏🏻

    BalasHapus

Posting Komentar